Senin, 22 September 2008

BANGUNLAH INTUISI POSITIF PEMILIH

Survei membuktikan bahwa pemilih yang mempertimbangkan alasan rasional dalam menentukan partai mana yang akan dicoblos dalam pemilu hanya mendapat porsi 12,55%, sedangkan 87,25% memilih karena alasan emosionalitas pemilih. Yang cukup mencengangkan adalah sebanyak 48,33% pemilih menggunakan intuisinya untuk menentukan partai politik mana yang akan dipilihnya.

Dijksterhuis dan Nordgren (2006) mendefinisikan intuisi berdasarkan Unconscious Thought Theory (UTT) berupa suatu perasaan berdasarkan pengalaman masa lalu tanpa disadari. Reber (1992) sering menyebutnya sebagai implicit knowledge yang memperkuat kekurangsadaran terhadap isinya. Intuisi berbeda dengan cara-cara pemecahan masalah lainnya seperti rational incremental dan sudden insight karena ia muncul dari proses berpikir yang tidak sengaja tanpa didasari oleh jumlah informasi yang cukup (Reber, Ruch-Monachon, dan Perrig, 2007). Memori tidak sadar ini diperkirakan berisi semua aspek terkait dengan masalah yang dipelajari berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Roy Sembel dan Sandra Sembel (2006) mendefinisikan intuisi sebagai perasaan (gut feeling) yang menuntun kita mengambil keputusan tanpa proses rasionalisasi yang rumit. Dalam artikel yang sama, mengutip Dr Michael Ray, dijelaskan bahwa intuisi merupakan sebuah keterampilan yang dapat dikembangkan. Seperti halnya keterampilan lainnya seperti bermain alat musik, berolahraga, menyetir mobil, dan naik sepeda, intuisi harus dipraktikkan secara nyata. Misalnya, bagi seorang pengajar atau yang mau belajar bahasa Inggris, semakin banyak seseorang mendapat masukan bahasa Inggris dalam bentuk bacaan, tayangan video, percakapan langsung dengan penutur ahli, semakin kuat intuisinya terbentuk. Hasilnya, ketika ia membaca sebuah kalimat dalam bahasa Inggris, intuisinya akan memberi petunjuk apakah kalimat yang dibacanya itu secara gramatika atau arti benar atau salah, walaupun ia sendiri tidak bisa menjelaskan secara rasional alasannya. Jadi, intuisi bukanlah produk emosional semata, tapi terbentuk karena pengalaman langsung dengan bidang kerja yang diminati.

Demikian pula dalam konteks politik. Iklan politik yang dilakukan secara terus menerus dapat ditujukan untuk membentuk intuisi seorang pemilih. Untuk itu diperlukan kampanye terus menerus tidak hanya pada saat pemilihan. Partaipolitik harus secara terus menerus memberikan pemahaman mengenai partai politiknya, pencapaian-pencapaiannya, sumbangsihnya bagi masyarakat, komitmen terhadap pembangunan bangsa dan hal-hal positif lainnya. Namun, hal ini juga tanpa mengurangi rasionalitas dan faktualitas dari apa yang disampaikannya ke publik sehingga dapat dipercaya. Intuisi negatif dapat terbentuk bila terdapat kebohongan atau tidak dapat dibuktikannya pernyataanpernyataan yang telah diberikan dalam iklan maupun kampanye politiknya. Dengan membangun intuisi positif, pemilih akan secara insting tahu bahwa partai politik tersebut partai yang nantinya harus dia pilih dalam pesta demokrasi mendatang.

IKLAN POLITIK MASIH PERLU BUNGKUS MENARIK

FAKTA & RASIONAL ITU PENTING TAPI TIDAK DIMINATI PEMILIH

Dalam penelitian yang saya lakukan, ternyata klaim obyektif (memuat sesuatu yang rasional dan faktual) dalam iklan politik kurang diminati dan kurang mendapat perhatian pemilih, namun mempunyai pengaruh kognitif secara langsung yang sangat besar. Responden hampir menyadari bahwa klaim obyektif itu penting dimuat dalam suatu iklan, namun tidak menarik minat dan perhatiannya secara langsung. Selain itu, minat pemilih akan iklan politik yang bermuatan klaim obyektif juga meningkatkan perhatian
dan memorisasi mereka. Demikian juga dengan perhatian pemilih yang dapat meningkatkan memorisasinya.


"GIZI PERMEN" YANG TINGGI PERLU BUNGKUS YANG MENARIK

MacKenzie (1986) menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti karakteristik iklan, peluang respon, dan karakteristik khalayak menentukan besar perhatian terhadap iklan. Dengan banyaknya karakteristik khalayak atau pemilih di Indonesia yang bersifat emosional, namun masih memandang pentingnya obyektivitas dalam iklan politik, yang perlu dilakukan adalah membuat agar pemilih tertarik dan memperhatikan iklan ini. Pengemasan seperti apa yang sesuai dengan perilaku pemilih di Indonesia perlu diinvestigasi lebih lanjut oleh profesional dan partai politik. Apakah itu jenis iklan humor atau iklan provokatif dengan tanpa mengurangi obyektivitas klaim yang dimuat di dalamnya.
Pamer perut yuk....
heheheee....